Position sizing: risiko dulu, lot kemudian.
Jumlah lot sebaiknya bukan hasil feeling. Mulai dari berapa kerugian maksimum yang Anda izinkan jika stop tersentuh, lalu batasi lagi dengan maksimum alokasi per saham.
Dengarkan ringkasannya
Kenapa posisi tidak boleh ditentukan dari “modal yang tersedia” saja.
Lihat transcript narasi
Position sizing menjawab pertanyaan berapa lot yang seharusnya dibeli, bukan berapa lot yang mampu dibeli. Pertama tentukan risk budget. Misalnya portofolio seratus juta rupiah dan risiko per transaksi satu persen, berarti batas kerugian satu juta rupiah. Kedua hitung risk per share dari jarak entry ke stop. Jika entry seribu rupiah dan stop sembilan ratus lima puluh, risk per share lima puluh rupiah. Secara murni risk budget menghasilkan dua puluh ribu lembar atau dua ratus lot. Tetapi jika Anda membatasi satu saham maksimal sepuluh persen portofolio, nilai posisi hanya boleh sepuluh juta rupiah, atau seratus lot di harga seribu. Gunakan angka yang lebih kecil. Dengan cara ini, stop loss dan konsentrasi portofolio bekerja sebagai dua pagar sekaligus.
Tentukan rugi maksimum
- Portfolio × risk % = batas rugi nominal.
- Risk budget bukan target rugi, melainkan pagar.
- Semakin jauh stop, semakin kecil position size.
Stop harus punya alasan
- Tentukan entry dan invalidation sebelum beli.
- Jangan memindahkan stop hanya agar lot terlihat lebih besar.
- Tambahkan buffer bila slippage menjadi concern.
Risk kecil bisa tetap terlalu besar
- Stop yang sangat dekat bisa menghasilkan lot absurd.
- Karena itu gunakan max allocation per saham.
- Ambil minimum dari dua batas tersebut.
Risk → Shares → Lots
Hitung posisi Anda
Masukkan portfolio, risk %, entry, stop, max allocation, dan optional buffer.
Buka Position Size →Position sizing tidak membuat trade menjadi benar. Fungsinya membatasi dampak ketika trade salah dan menjaga satu posisi tidak mendominasi portofolio.
Contoh angka hanya untuk edukasi. Batas risiko yang sesuai berbeda untuk setiap investor dan strategi.